Sekolah Farmasi: Menelusuri Jejak Pendidikan Farmasi di Indonesia


Sekolah Farmasi: Menelusuri Jejak Pendidikan Farmasi di Indonesia

Pendidikan farmasi di Indonesia telah mengalami perkembangan yang pesat seiring dengan kebutuhan akan tenaga profesional di bidang farmasi. Salah satu lembaga pendidikan yang telah berperan penting dalam menghasilkan tenaga ahli farmasi berkualitas adalah Sekolah Farmasi. Sekolah Farmasi merupakan institusi pendidikan tinggi yang fokus dalam mengajarkan ilmu farmasi dan mempersiapkan mahasiswanya untuk menjadi apoteker yang kompeten dan beretika.

Sejarah pendidikan farmasi di Indonesia dimulai pada tahun 1957 dengan berdirinya Akademi Farmasi di Surabaya. Pada saat itu, pendidikan farmasi hanya berlangsung selama dua tahun dengan status pendidikan menengah kejuruan. Namun, pada tahun 1961, Akademi Farmasi berubah menjadi Akademi Farmasi Indonesia dan memberikan gelar Apoteker kepada lulusannya setelah menyelesaikan pendidikan selama tiga tahun.

Seiring dengan perkembangan ilmu farmasi dan kebutuhan akan apoteker yang berkualitas, pendidikan farmasi di Indonesia semakin ditingkatkan. Pada tahun 1979, Akademi Farmasi Indonesia berubah statusnya menjadi Institut Sains dan Teknologi Farmasi (ISTF) dengan durasi pendidikan selama empat tahun. ISTF kemudian berganti nama menjadi Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 1996 dan tetap menjadi salah satu institusi terkemuka dalam pendidikan farmasi di Indonesia hingga saat ini.

Selain ITB, sejumlah universitas dan institusi pendidikan tinggi lainnya di Indonesia juga telah membuka program pendidikan farmasi. Misalnya, Universitas Gadjah Mada (UGM) di Yogyakarta, Universitas Indonesia (UI) di Depok, dan Universitas Airlangga (UNAIR) di Surabaya. Program pendidikan farmasi di universitas-universitas tersebut telah memperoleh akreditasi yang baik dan melahirkan generasi apoteker yang handal.

Pada tahun 2012, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi juga mendirikan Politeknik Kesehatan dan Farmasi (Poltekkes) di berbagai wilayah di Indonesia. Poltekkes ini bertujuan untuk menjembatani kekurangan tenaga apoteker di daerah-daerah terpencil dan meningkatkan akses pelayanan farmasi yang berkualitas bagi masyarakat. Poltekkes telah membuka program pendidikan diploma tiga dengan durasi pendidikan selama tiga tahun.

Untuk memastikan kualitas pendidikan farmasi di Indonesia, lembaga pendidikan ini telah mengikuti proses akreditasi yang ketat oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Standar akreditasi yang diterapkan mencakup kurikulum, fasilitas, tenaga pengajar, dan proses pembelajaran. Dengan adanya akreditasi ini, diharapkan lulusan Sekolah Farmasi dapat memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.

Pendidikan farmasi di Indonesia terus berkembang mengikuti perkembangan ilmu farmasi dan kebutuhan masyarakat. Dalam beberapa tahun terakhir, program pendidikan farmasi juga semakin mengarah kepada pendekatan yang lebih praktis, dengan memberikan kesempatan mahasiswa untuk berinteraksi langsung dengan pasien dan mengenal dunia kerja farmasi melalui program magang. Hal ini diharapkan dapat menghasilkan apoteker yang siap dan mampu memberikan pelayanan farmasi yang berkualitas bagi masyarakat.

Referensi:
1. Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). (2021). Standar Penilaian Akreditasi Program Studi. Diakses dari
2. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. (2018). Pedoman Penyusunan Kurikulum Program Studi. Diakses dari
3. Institut Teknologi Bandung. (2021). Sejarah Program Studi Farmasi ITB. Diakses dari
4. Universitas Gadjah Mada. (2021). Program Studi Farmasi UGM. Diakses dari
5. Universitas Indonesia. (2021). Program Studi Farmasi UI. Diakses dari
6. Universitas Airlangga. (2021). Program Studi Farmasi UNAIR. Diakses dari